Featured

Aksi Bela Islam ke-3 bermartabat 212

Alhamdulillah, dengan rahmat Alloh telah terjadi fenomena Aksi Bela Islam ke-3 Super Damai tanggal 2 desember 2016 di Jakarta Indonesia. Dalam rangka membela agama Islam yang di nistakan oleh ‘gubernur kafir’ pengganti yang tidak di inginkan oleh warga Jakarta.

aksi-damai-212-indonesian-sejuk

Advertisements

ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANAN.

Prasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja.

Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan.

Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.

Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja.
Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.

Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?.

Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan.

Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.

Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam.

Allah ta’ala menegaskan,

ﺃَﻓَﺘُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺒَﻌْﺾِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺒَﻌْﺾٍ ۚ ﻓَﻤَﺎ ﺟَﺰَﺍﺀُ ﻣَﻦ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻣِﻨﻜُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﺧِﺰْﻱٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ۖ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻳُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰٰ ﺃَﺷَﺪِّ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ ۗ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻐَﺎﻓِﻞٍ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﴿٨٥ ﴾

Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.”
QS. Al-Baqarah (2): 85.

Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.

Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah.

Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.

Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam.

Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.

Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta.

Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara.

Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi.

Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.

Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana.

Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur.

Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.

Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺩْﺧُﻠُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴِّﻠْﻢِ ﻛَﺎﻓَّﺔً ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺧُﻄُﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻣُّﺒِﻴﻦٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.

Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama!
Sebab Islam bukan agama prasmanan…

✏Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

a-zein-lc

Efek politik Snouck

Adalah Abdul Ghafar alias Snouck Hurgronje, orang belanda yang pura2 masuk Islam dan belajar Islam dengan misi menghancurkan/menyesatkan ajaran Islam internal di Indonesia khususnya untuk memenangkan perang melawan rakyat Atjeh pada tahun 1873 – 1910.

Hingga saat ini doktrinasi pemikirannya snouck hurgronje yaitu “Jangan bawa agama ke Politik dan negara” ; “politik itu kotor jangan campurkan agama yg bersih ke politik” sangat berhasil masuk ke pola pemikiran orang Indonesia hingga kini, walau fisik kita tidak terjajah, tetapi masih saja pemikiran sebagian orang indonesia masih terjajah oleh racun doktrin yang salah dari snouck hurgronje ini.

Efek dari racun doktrinasi snouck yang salah hingga hari inilah yang mengakibatkan pecahnya persatuan Indonesia.

Semoga kita sadar karena dari orang inilah awalnya yang membuat politik devide et impera (pecah belah) di jalankan agar terjadi perang saudara di Indonesia.

Karena kejahatan yg terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yg tidak terorganisir.

Maka Islam berpolitik itu adalah untuk mensyiarkan kebenaran dan kebaikan yg datang dari Alloh sang pencipta Alam semesta ini bukan untuk bersiasat dalam kejahatan.

Ajaran Islam tidak mengharamkan berpolitik.

Jika ada ‘orang’ Islam yg berbuat salah jangan salahkan ‘Ajaran Islam’ nya. Politik Ajaran Islam adalah menegakan kalimat tauhid dan menerapkan syariat Islam pada pemeluknya.

Politik itu adalah siasat untuk menggapai cita-cita. Siasat yang cerdas, ikhlas dan berakhlak sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan Quran akan melahirkan sesuatu yang pasti baik. Jika siasat nya sudah menjauhi dari ajaran agama Islam tentu membawa dampak yang tidak berkah dan tidak beradab.

Seperti yang di jalankan oleh tauladan, panutan utama semua Umat Muslim yaitu Muhammad Rasululloh SAW beliau adalah tokoh Ideologi, juga politik, ekonom, sosial dan budaya Islam.

Perjanjian Hudaibiyah terealisasi berkat strategi politik Rasululloh.

Yang dengan ajaran keseimbangan nya yaitu lemah lembut kepada orang muslim dan non-muslim yang cinta damai tetapi juga bisa keras dan tegas kepada orang muslim dan non-muslim yang tidak cinta damai.

Maka dalam hal ini, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, oleh founding fathers kita (Soekarno dkk) mengatakan bahwa ajaran Pancasila ibarat gayung yang mengambil mata air sumber ajaran Islam, dengan sendirinya (otomatis) orang Islam sudah pancasilais.

Sila pertama Pancasila adalah intisari dari surat Al Ikhlas, Qul Allohu Ahad, Alloh itu Satu, Tuhan itu satu, Ketuhanan yang maha Esa. Hanya Islam satu2nya agama yang menganut monotheisme (ajaran berketuhanan hanya satu).

Pancasila tidak mungkin berseberangan dengan ajaran Islam karena founding fathers kita juga mayoritas beragama Islam, dan perjuangan fisik dari Sabang hingga merauke di banyak di komandoi oleh keberanian para kyai dan santri Islam, seperti Teuku Umar dari Aceh, Imam Bonjol dari Padang, Pangeran Antasari dari kalimantan, sultan Hasanudin dari Makassar, Pangeran Diponegoro dari Jawa juga bung Tomo dan Panglima Sudirman, hingga Pangeran Pattimura dari Maluku, Indonesia bisa merdeka dengan adanya teriakan takbir Allohu Akbar!

Membela ajaran yang benar itu adalah semangat kebenaran, bukan karena semata-mata merasa benar sendiri pribadi tetapi benar karena ajaran Nya. Jika semangat keberanian membela agama telah hilang maka ibarat mayat hidup yang layak menggunakan kain kafan.

Orang yang mengaku beragama Islam tetapi malu dan tidak ada semangat untuk membela agama nya sendiri berarti Lemah Imannya (jarang sholat, puasa, dan ibadah lainnya, terjajah pemikirannya dengan snouck hurgronje) adalah Munafik.

Mempertahankan dan membela kebenaran dari Quran itu bukanlah suatu kefanatikan atau fundamentalist atau teroris tapi suatu KETAKWAAN.

Ajaran Islam yang Maha Agung tidak mengajarkan kebencian, provokatif atau hingga radikalisme.

Antara kelembutan dan Kasih sayang berpadu dengan ketegasan.

Kebenaran itu datangnya dari Alloh dan Rasulnya Muhammah melalui Quran dan sunnah, kesalahan itu datangnya dari hamba ciptaan Nya

snouck